Ah... Its dejavu
all over again. Juventus sits
comfortably on top of the league on New Year Holiday. Its a
good sign isn't it? I'm afraid maybe you and I
are wrong. Why?. This end year term are completely different
than last year. Juve still competing in
three competitions (Champions League, Coppa and of course Serie A). Let's compare it to the last year campaign
which Juve put (maybe) 70% of their concentration on Scudetto's title race.
I have to say its miraculous we've come this far based on
how Antonio Conte's attacking department still crippling to make a way to
converts a dozen chance into a potential rette.
Alessandro Matri and co just scoring 18 goals on this half term in Serie A. Mind you, its nearly 50% of Juventus's goal
and it seems everything is going to be allright. But no, it isn't, the average goal per minute that been made by
the Turin attacking sides
(yes, i'm already counting Bendtner too) are still too low and the sums up of the goals got rosed
up thanks to the hattrick of
Fabio Quagliarella against Udinese and made him as a topscorer club with 6 goals.
We already knew
that if Conte and the directors want to make sure Juve' step in the Champions
League, then Bianconeri must sign a world class striker whom can put fear around enemy's difensore, Cavani, Zlatan, and Falcao
are the rare examples for that type. Let's we agree that sometimes Mirko Vucinic can be such an
irritatingly lazy up front while Giovinco struggle to slip in behind enemy's
defensive line.
Which it can be worse when in the same time,
trio MVP (Marchisio,Vidal, Pirlo) can't dominate the field (remember Juve's game with Inter and Milan? There you go). This cant be happening again if Juve
dont want to lose precious points for the title race and survivability in the
Champions League.
In the rarity of identically prima punta like Cavani whose available in the
market and the huge amount of unused
striker. I doubt Paratici and Marotta can add
the quality in front on this window as Cavani reluctant to go from San Paolo
(at least for now).
I doubt Fernando Llorente will join Juve this Winter
While the
possibility of signing the 24 year old are nearly impossible, Juve now try to
refresh their interest of Athletic Bilbao's Fernando Llorente. Although Juve reported already made an offer
for the Spaniard, the agreement between two clubs are far from complete. I had to say that Juve will not swoop Llorente whose contract at Atleti
will end in this summer by this window. They
will try to get him on this winter but only for looking an agreement to join
Juve in the next season.
If this
scenario will smoothly played according to plan , so the next question is who
can temporarily add the quality of the strikers for the next 19 games? I'm
afraid there isn't a lot of option for this winter. If this situation goes on and on and on
again like this. One by one the doors
are closing but when god closed the doors. . what the hell, you already know the rest. . . . .
Hey, Marco Boriello is now
available (again) !
(Note: It
would be atrociously funny if we signed Borriello on loan again, and he
won his second consecutive Scudetto with Juventus. )
Giornata 24 akan
bergulir, dua calon Campione d’Italia,
Milan dan Juventus akan bertempur habis-habisan guna menentukan siapa yang
layak merengkuh gelar scudetto. Apakah Milan akan membalas dua kekalahannya dari
Juve musim ini ataukah Juve akan terus mempertahankan trend tidak pernah kalah
sepanjang musim?. So far, Milan dengan skuadnya yang pincang imbas dari badai cedera
sanggup memukau publik italia dengan konsistensi pasukan Max Allegri meraup
kemenangan di 3 ajang berbeda.
Milan yang memiliki rasio 2 gol di
setiap pertandingan memang patut diwaspadai jajaran difensore
Juventus. Andrea Barzagli dkk tidak perlu rendah diri menghadapi gempuran para attacante
Milan, lini belakang Juve saat ini merupakan pertahanan terbaik di serie A. Di
saat tim-tim lain telah kemasukan puluhan gol hingga pekan 24, Juve baru
kemasukan 14 gol.
Problem fullback kanan yang selalu menjadi titik lemah Juve di beberapa
musim terakhir dapat dicover Lichsteiner. Penampilan mengejutkan Andrea Barzagli yang bisa dikatakan sebagai transfer
darurat pada musim lalu juga merupakan kunci Juve dalam meredam serangan
lawan-lawannya.
Di lain pihak, Milan merupakan
tim paling produktif di Serie A, Tim yang sudah merengkuh 18 gelar scudetto
tersebut menyoyak jala lawan sebanyak 48 kali. 5 partai terakhir yang dilalui Milan
juga tidak menunjukkan taring El Shaarawy dkk menumpul, Milan menyarangkan 11
gol dan 3 gol kemasukan dengan rincian 7 gol dalam dua partai terakhir kala
Milan menghajar Arsenal dan Cesena.
A.C. Milan paling produktif di Serie A
Keran gol yang mengalir di kubu
Milan sebaliknya tidak terjadi pada departemen penyerangan Juventus. Dalam 5
laga terakhir Juve hanya menyarangkan 7 gol dengan catatan 2 giornata ( melawan Parma dan Siena) skuad
Turin tersebut gagal menggetarkan jala lawan.
Fokus di 15 menit
terakhir
Laga ini memang menjanjikan intrik,
persaingan ketat antar lini dan tensi pertandingan yang tinggi mengingat kedua
tim berupaya menambah jarak poin antara mereka. Bila Milan ingin mengamankan 3
angka di San Siro, Max Allegri dapat menginstruksikan pemainnya untuk lebih
agresif pada 15 menit pertama dimana ketika Juventus berlaku sebagai tamu
memiliki kecenderungan kebobolan di 20 menit pertama. Maxi Lopez dkk mungkin
akan kesulitan memenuhi target tersebut, sepanjang musim Milan hanya berhasil
menyarangkan 12 gol di 30 menit awal pertandingan.
Pertandingan diprediksi bakal
sengit antara menit 30-45 menit dimana
kedua tim mulai menemukan ritme mereka. 20% gol Milan tercipta dalam rentang
waktu tersebut, sedangkan tamunya, Juventus hanya mengemas 3 gol.
Skuad asuhan Antonio Conte memang
diprediksi bakal menanggalkan formasi 4-3-3 favoritnya guna mengusung 3-5-2
yang lebih defensif, mengingat sektor tengah dan depan Milan dijubeli pemain
dengan dribel yang mumpuni. Anak-anak pasukan Turin diprediksi bakal mulai
menggeliat pada 30 menit terakhir menjelang peluit panjang ditiup oleh Paolo
Tagliavento. Menurut data yang dirilis oleh Soccerway.com, hampir separuh gol
yang dilesakkan Claudio Marchisio dkk musim ini tercipta dalam rentang menit 60-90.
Marchisio kerap memecah kebuntuan pada menit 60-90
So, 15 menit di akhir setiap
babak sangat menentukan hasil laga Big
Match ini. Satu yang pasti, laga ini bakal menghibur seperti biasanya kala
dua tim bersua So, Minggu dini hari
bakal menjadi penentu siapakah pemenang antara The Best Offense atau The
Best Defense!
Players to Watch
Stephan El Shaarawy
Date of birth : 27
October 1992 (age 19)
Place of birth : Savona,
Italy
Playing position : Striker
Minutes Played / Appearances : 425/13
Goals/Assits : 2/2
Pemain depan A.C. Milan ini menunjukkan grafik permainan
yang lumayan drastis. Cedera paha kiri kambuhan Pato dan absennya Cassano
membuat El Sharaawy semakin mendapat jatah bermain. Kemampuan mengacak pertahanan
lawan yang dimilikinya patut diwaspadai Giorgio Chiellini dkk.
Andrea Pirlo
Date of birth : 19
May 1979 (age 32)
Place of birth : Flero,
Lombardy, Italy
Playing position : Midfielder
Minutes Played/Appearances : 1967/22
Goals/Assists : 1/3
Andrea Pirlo menyeberang ke rival Milan, Juventus dengan nada
sindiran bahwa “Ia sudah habis”. Dibawah polesan Antonio Conte, Pirlo
menampilkan penampilan yang apik. Juve yang dalam beberapa musim kebelakang
tidak mempunyai “komandan lapangan” bermain lebih terorganisir berkat kehadiran
pemain didikan Brescia tersebut. Tak selamanya Pirlo bermain bagus di setiap
pertandingan, di satu pertandingan ia bisa menunjukkan kelasnya, di satu
pertandingan dia menunjukkan umurnya.
Belum terkalahkan di
Serie A hingga saat ini dan masih punya tabungan dua pertandingan, Juventus
makin terlihat superior musim ini. Tapi sampai kapan kira-kira keperkasaan
Juventus akan bertahan?
Meski belum terkalahkan dan menjadi salah satu calon kuat juara musim
ini, kondisi tim kota turin tersebut bisa dikatakan mengkhawatirkan. Si Nyonya
Tua baru mencetak 33 gol di Serie A hingga saat ini. Memang Juventus masih
punya tabungan dua pertandingan, tapi jika dibandingkan dengan para penghuni
papan atas Seria A lainnya (posisi 1 sampai 7), Juventus terlihat tumpul.
Musim ini, dari 21 penampilan, AC Milan telah mencetak 43 gol, disusul
Napoli (36 gol), Lazio (35 gol), Inter Milan (34 gol), Juventus (33 gol), lalu
Roma dan Udinese (32 gol). Dari total gol yang dicetak Juventus tersebut,
sebanyak 10 gol dihasilkan dari 3 pertandingan, empat gol saat melawan Parma
dan masing-masing tiga gol saat melawan Napoli dan Palermo. Hal ini berarti
Juventus hanya mencetak 23 gol dari 18 pertandingan lainnya.
Kondisi tersebut tampaknya bisa menjelaskan mengenai sembilan hasil
imbang yang didapat Juventus hingga saat ini. Tim asuhan Antonio Conte tersebut
membutuhkan seorang penyerang yang haus gol karena penyerang baru yang dibeli
pada musim panas tahun lalu, Mirko Vucinic, terlihat kesulitan menemukan cara
untuk membobol gawan lawan.
Performa Alesandro Matri memang sedang menanjak dan kini menjadi top
skor sementara klub dengan torehan sembilan gol. Meski begitu, Matri terlihat
tajam karena hanya bersaing dengan Alesandro Del Piero yang sudah mendekati
akhir karir dan Fabio Quagliarella yang rajin cedera.
Masalah tumpulnya serangan Juventus harus segera diperbaiki Conte.
Namun masalah yang dihadapi Conte bukan hanya itu, setidaknya masih ada tiga
masalah lain, yaitu:
Kurang amunisi di lini
tengah
Juventus terlihat tidak punya pelapis mumpuni untuk trio MVP
(Marchisio, Vidal, Pirlo). Ditambah dengan kepergian Pazienza, trio MVP harus
selalu siap menjadi andalan utama Conte pada setiap pertandingan. Sayangnya,
ketergantungan tersebut tidak dibarengi dengan adanya pelapis yang mampu
berperan baik menggantikan trio punggawa lini tengah tersebut apabila salah
satu dari mereka berhalangan tampil. Terbukti saat Pirlo berhalangan tampil,
aliran bola Juventus tampak mandek.
Juve
kerap menuai hasil tidak maksimal kala MVP tidak on-fire
Wingerpekerja keras
Tidak ada pelapis yang sebanding untuk pemain serba bisa macam Simone
Pepe, yang bisa beroperasi pada sayap kanan dan kiri, bahkan terkadang menjadi
bek kanan untuk menutup Stephan Lichsteiner yang sedangoverlap. Pepe memang bukan pemain paling
berbakat di Juventus, tapi pemain bernomor punggung 7 tersebut patut diacungi
jempol untuk urusan kerja keras dan semangat pantang menyerah. Dengan torehan 5
gol dan 1assisthingga saat ini, pemain yang sempat punya
masalah dengan staminya tersebut menunjukkan perkembangan bagus dibandingkan
musim lalu.
Memang masih ada Milos Krasic, namun kecepatan tampaknya merupakan
satu-satunya keunggulanwingerasal Serbia tersebut dibanding Pepe. Kurang
ngotot dan hanya bisa beroperasi di sisi kanan, Krasic buka pelapis yang ideal
bagi Pepe. Emanuele Giaccherini memang bagus, namun mantan pemain Siena
tersebut lebih gemar menyerang dibanding ikut bertahan. Sementara itu, Eljero
Elia gagal memukau Conte dan kini bernasib tidak jelas.
Juve
belum menemukan solusi ampuh pengganti Pepe
Bek Tengah yang
Tangguh
Andrea Barzagli yang bisa dikatakan transfer darurat
pada musim lalu secara mengejutkan tampil mengesankan, tetapi rekannya,
Alesandro Bonucci, masih sering tampil mengecewakan dan tidak menunjukkan
perkembangan yang signifikan dibandingkan musim lalu. Bonucci seringkali
melakukan kesalahan-kesalahan fatal yang berujung gol. Seperti pada
pertandingan melawan Napoli, kelalaian Bonucci berperan besar pada gol cantik
Goran Pandev
.
Bek tengah terbaik Juventus saat ini, Giorgio Chiellini, harus rela
dipasang sebagai bek kiri untuk menutupi kekuranganfull backyang dimiliki Juventus. penampilan mengesankan Stephan Lichsteiner
merupakan perkembangan besar dibandingkan saat sisi kanan pertahanan masih
dikawal oleh Marco Motta pada musim lalu.
Sayangnya, lagi-lagi masalah pelapis, tidak ada pemain sepadan yang
mampu menggantikan mantan pemain Lazio tersebut. Kedatangan Martin Caceres,
yang mampu bermain di beberapa posisi yang berbeda di lini belakang, mungkin
bisa mengatasi masalah tersebut. Namun, meski mencetak dua gol kemenangan
Juventus atas AC Milan pekan lalu, Caceres masih sering keasyikan menyerang dan
lupa kembali ke posisinya.
Caceres-
Fullback anyar Juve, sama baiknya dengan Lichsteiner
Disamping segala masalah tersebut, pertahanan Juventus bisa dikatakan
cukup tangguh. Hanya kemasukkan 13 gol hingga saat ini merupakan rekor
pertahanan terbaik di Serie A musim ini. Pujian atas tangguhnya pertahanan
Juventus tampaknya bukan hanya hak para pemain bertahan. Pujian juga patut
disematkan pada para pemain tengah.
Arturo Vidal berperan besar atas sulitnya para pemain lawan menembus
pertahanan Juventus. Pemain asal Chili tersebut tampak tidak pernah lelah,
berperan sebagai dinding pertama saat lawan menyerang, Vidal juga rajin untuk
ikut turun untuk membantu pertahanan dan merebut bola. Hal yang sama juga
berlaku bagi Pepe dan Marchisio, dan Pirlo.
Musim lalu, penampilan Felipe Melo sebenarnya cukup mengesankan, namun
buruknya kemampuan Melo saat mengoper bola menghancurkan segalanya. Tidak
jarang Melo merusak momentum karena bola yang sudah susah payah direbut dari
pemain lawan, dengan baiknya ia kembalikan pada lawan akibat salah mengoper.
Dibandingkan musim lalu, trio punggawa lini tengah Juventus musim ini punya
kemampuan mengoper bola yang baik. Trio MVP (Marchisio, Vidal, Pirlo) tidak
hanya mampu menjaga bola, tapi juga mampu mengalirkan bola ke depan untuk
menciptakan peluang mencetak gol.
Jadi, demi mengejar kembali kejayaan, Conte harus memutar otak untuk
mendapatkan pengganti yang sepadan untuk pemain macam Pepe, Vidal, dan
Marchisio. Jangan lupakan juga masalah kurang tajamnya penyerangan. Jika Conte
mampu menyiasati segala kekurangan tersebut, rekor tak terkalahkan Juventus
rasanya masih bisa terus berlangsung. (DAP)
Buruknya cuaca yang sedang
berlangsung di Italia berimbas pula pada jadwal kompetisi serie A. Beberapa
laga dihentikan akibat cuaca yang kurang mendukung. Rendahnya kualitas stadion
dan tidak diterapkannya sistem under
soil heating memaksa FIGC harus mengatur ulang jadwal yang sudah
ditetapkan.Kebanyakan stadion di Italia memang masih “tradisional” dan dibuat
sekedar memenuhi kuota stadion dalam menggelar perhelatan Piala Dunia 1990.
Kabar buruk
ini tampaknya malah menjadi Blessing in
Disguise bagi kubu Juventus. Juve yang hanya mengikuti ajang Serie A dan
Coppa Italia mendapat istirahat tambahan akibat pergeseran jadwal tersebut.
Jeda kompetisi
yang diperoleh Juve nampaknya belum bisa dimanfaatkan betul oleh Chiellini dkk.
Hal ini terlihat ketika Juve melawat ke Ennio Tardini pada giornata 21 untuk
menghadapi Parma.
Juve belum
menemukan kembali performa bagus yang sempat diperlihatkan pada bulan-bulan
sebelumnya. Alessandro Matri dan Mirko Vucinic terlihat kesulitan dalam mengoyak
jala Nicola Pavarini. Skor kacamata di Stadion Ennio Tardini membuat Juventus
gagal mengambil alih gelar capolista
sementara yang kini masih dipegang Milan dengan poin 47 dari 23 laga.
Teruskan Tren Positif
Belum
kembalinya performa skuad Bianconeri kudu dimanfaatkan oleh sang tamu, Catania
yang akan melawat ke Juventus Stadium, Sabtu (18/2). Setelah menahan imbang
Roma pada giornata 19, skuad besutan Vincenzo Montella tersebut menghajar Genoa
4 gol tanpa balas. Momentum positif ini tentu ingin dipertahankan guna mengamankan
posisi Catania dari jurang degradasi.
Montella berharap tren positif Catania berlanjut.
"Tentu
saja mengalahkan Juventus akan bagus bagi kami, bagi sepakbola, klasemen dan
juga bagi tifosi. Pertandingan Ini akan jadi pertandingan sulit bagi Catania,
tapi ini juga sulit bagi Juve," tandas pelatih Catania, Vincenzo Montella.
Catatan
positif yang diraih ketika berlaku sebagai tuan rumah malah berbanding terbalik
ketika Nicola Legrottaglie bertindak sebagai tamu. Skuad Gli Elefanti hanya mengantongi 1 kemenangan dalam 10 laga tandang
(1-5-4).
Di kubu tuan
rumah, Juventus tak boleh menganggap enteng rapor merah laga tandang yang
ditorehkan Catania. Track Record ketika
Juve melawan klub-klub provinsi memang tidak terlalu mulus. Klub-klub ini kerap
menjegal langkah Juve dalam meraup poin penuh. Andrea Pirlo dkk sering kewalahan
dalam membongkar pertahanan tim-tim yang menerapkan pressing ketat. Hal ini terlihat pada laga melawan Lecce,
Siena dan Parma. Ketiga tim tersebut
memainkan strategi defensive dan
melancarkan counterattack yang
mematikan, dapat ditebak Juventus yang kewalahan hanya meraih 3 poin dari 3
laga tersebut.
Pemain Lapis Kedua : Alternatif
Pemecah Kebuntuan
Tren negatif
yang diperlihatkan Juve kala berhadapan tim provinsi membuat Conte nampaknya
harus memberi kepercayaan lebih kepada para pemain lapis kedua. Andrea
Barzagli, Andrea Pirlo, Giorgio Chiellini dan Stephan Lichsteiner tampak
kelelahan kala tampil di setiap pertandingan. Ketiga pemain tersebut merupakan
pemain dengan minute play terbanyak Juve,
Barzagli &Pirlo (1890 menit) disusul
Chiellini&Lichsteiner dengan (1800 menit). Nama-nama seperti Estigarribia,
Giaccherini dan Caceres layak mendapat perhatian lebih dari Conte. Nama
terakhir malah menjadi aktor kemenangan kala Juventus mengalahkan Milan di
ajang Piala Italia dengan dua golnya.
Emanuelle Giaccherini dapat menjadi solusi mandeknya lini pertahanan Juventus
Ketiga pemain tersebut kerap
menjadi pemecah kebuntuan kala tim utama Juventus kewalahan dalam membongkar
pertahanan lawan namun Conte nampaknya belum berani untuk mengubah skema the
winning teamnya.
Laga melawan Catania merupakan
sebuah perjudian bagi Conte. Apakah mantan pelatih Siena ini bakal mengambil
resiko dengan memasukkan nama-nama pemain lapis kedua? Ataukah ia tetap percaya
The Winning Teamnya sembari berharap catatan tandang Catania kembali berlanjut?
Jawabannya bisa ditemukan pada laga yang disiarkan Live oleh Indosiar pada
Minggu pukul 02.45 WIB. (DAP)
A.S. Roma dengan skuad brilian
yang menjuarai scudetto 2000-2001 atau Juventus yang berambisi kembali ke trek
juara?. Buffon yang kala itu berusia 24 tahun mengalami dillema. Dua klub
tersebut sama-sama klub besar, dua klub tersebut juga menawarkan kontrak yang
sama-sama menggiurkan. Buffon muda pun tidak munafik, bergabung ke dalam skuad
juara racikan Fabio Cappello menjadi prioritasnya. Namun kepindahan Buffon
bertepuk sebelah tangan, mantan presiden Roma Franco Sensi lebih memilih
menggunakan dana belanjanya untuk mendatangkan dua bintang muda Italia lainnya,
Ivan Pelizzoli dan Antonio Cassanno.
"Saya
sangat dekat untuk bergabung dengan Roma ketika saya memutuskan meninggalkan
Parma. Namun pada saat itu Sensi memilih membeli Pelizzoli karena ia masih
muda," ujar Buffon.
Buffon hampir ke Roma sebelum bergabung ke Juventus
Melihat
kesempatan emas ini, Juve langsung menawarkan proposal yang tidak bisa ditolak
Parma. 32,6 Juta Pounds dirogoh Juve untuk mendatangkan portiere yang baru saja
meraih penghargaan sebagai kiper terbaik dalam 25 tahun terakhir versi IFFHS (International Federation of Football
History and Statistics).
Buffon
membayar setiap sen yang Juve keluarkan dengan rentetan prestasi, kesetiaan dan
dedikasi tinggi. Ia tidak canggung bermain dengan pemain-pemain sekaliber Paolo
Montero dan Ciro Ferrara. Di musim perdananya ia langsung mempersembahkan gelar
scudetto ke pangkuan Nyonya Tua. Pria kelahiran
Carrara 34 tahun silam itu dengan mudah mengisi kekosongan pos Edwin Van Der
Sar yang hijrah ke Fulham.
Di musim
perdananya pula, Buffon sukses mengantarkan Juventus ke All Italian final Liga
Champions 2002-2003 menghadapi A.C. Milan di Old Trafford. Sayang, Juventus
harus dikalahkan oleh Milan lewat adu penalti.Penampilan apik yang
diperlihatkan sepanjang kompetisi membuat Buffon diganjar 2 penghargaan
sekaligus yaitu penghargaan Most Valuable
Player dan Best Goalkeeper.
Menariknya penghargaan MVP ini jarang sekali diberikan kepada seorang kiper,
biasanya penghargaan MVP sering digaet oleh posisi striker/gelandang.
Dark Ages of Superman : Calciopoli, Judi dan Cedera
Musim 2003
hingga 2005 Juventus terus menggila di Italia dan ajang kompetisi Eropa. Buffon
terus bersinar bersama sederet bintang seperi Emerson, Thuram, Vieira, Cannavaro
dan Ibrahimovic. Juventus bahkan sempat dinobatkan sebagai salah satu tim
tertangguh di Dunia
Tapi hari-hari
jaya itu tidak berlangsung lama. Buffon yang sedang menikmati masa emasnya
harus dikejutkan oleh realita yang mengharuskan turunnya Juventus ke serie B
terkait “skandal” pengaturan yang disinyalir diotaki oleh Luciano Moggi dan
Direksi Juventus. Eksodus pun terjadi di tim besutan Allenatore Fabio Cappello
tersebut. Thuram hijrah ke Barcelona, Vieira dan Ibrahimovic ke Inter,
Cannavaro pergi ke Ibukota Spanyol untuk bergabung bersama Real Madrid. Buffon
pun sempat diisukan mengikuti kepergian rekan-rekannya, sederet klub papan atas
Eropa seperti Milan, Manchester United mencoba merayu Buffon untuk meninggalkan
skuad Bianconeri.Buffon menolak, ia sudah kerasan tinggal di kota Turin, ia pun
yakin Juventus hanya setahun berlaga di serie B.
Menariknya
sebelum vonis turunnya Juve ke Serie B, Buffon sempat berpikir untuk hengkang ke
Milan dari Juve. Buffon merasa hidupnya kurang tantangan, dan ia ingin mencari pengalaman
baru.
“Ya, mungkin saya sudah bergabung
dengan Milan, untuk mencari tantangan dari sebelumnya, tapi turun ke Serie B
cukup menjadi tantangan dan saya merasa melakukan hal yang benar. Mungkin itu
tidak sewajar yang orang kira, tapi akhirnya itu menjadi keputusan yang mudah
bagi saya.”
“Jika Juventus harus turun ke
Serie B maka saya harus bersama mereka. Saya tidak butuh memikirkan hal
tersebut. Juventus membantu saya menjadi juara dunia, jadi saya berhutang
banyak.”
Kembalinya
Juve ke serie A harus memakan tumbal, Cedera yang didera Buffon ketika bertabrakan
dengan Kaka di tahun 2005 kembali kambuh. Buffon pun harus absen cukup lama,
dislokasi bahu dan dan cedera pangkal paha memperburuk penampilan Buffon
dibawah gawang. Berbagai spekluasi pun mencuat, jurnalis sepakbola dan pengamat sepakbola
italia menyebutkan Buffon sudah kehilangan “kekuatan” superheronya .
Calciopoli, skandal Judi dan cedera berkepanjangan sempat menurunkan performa Buffon
Belum lagi
masalah cedera selesai, Buffon kembali dirudung isu yang tak sedap. Buffon dan
deputinya di Juventus Antonio Chimenti beserta pemain-pemain serie A lainnya dicurigai
terkait judi pengaturan skor sepakbola. Buffon kebakaran jenggot, demi membersihkan
namanya, ia secara sukarela diperiksa oleh pemerintah setempat, ia mengakui
sempat melakukan judi kecil-kecilan kala ia masih bersama Parma dan ketika itu
belum ada peraturan yang melarang pemain melakukan judi. (Aturan pelarangan
pemain untuk berjudi baru disahkan di akhir tahun 2005)
Penalti : Batu Kriptonyte Buffon
Buffon
memang sering diidentikkan sebagai Superman karena sering melakukan penyelamatan
yang dianggap mustahil. Namun setiap Superhero pasti punya sebuah kelemahan,
Superman dengan batu kriptonnya, Green Lantern dengan segala hal berwarna
kuning, Buffon? Penalti. Tendangan 11 meter ini merupakan momok bagi
Gigi-begitu ia akrab disapa-. Lemahnya konsentrasi Buffon dalam membaca dan
mengantisipasi tendangan penalti membuat catatan prestasinya sedikit cacat.
Coba tengok ketika Buffon yang mengawal gawang Italia harus menghadapi drama seru
di ajang Final Piala Dunia 2006 menghadapi Perancis. Chip Ball yang dilesakkan
Zinedine Zidane lewat titik putih tidak bisa dihalau Buffon, Prancis pun unggul
di menit 7, beruntung Marco Materazzi menyamakan lewat sundulannya di menit 16.
Setelah
120 menit pertandingan yang berjalan alot dan diwarnai peristiwa tandukan “maut”
Zidane ke Materazzi, Kedua tim harus menjalani adu penalti dalam memperebutkan
titel Timnas No.1 di Dunia. Semua Publik Italia tentu cemas, mereka mengenal
Buffon sebagai kiper yang jenius tapi tidak dalam hal mengantisipasi
penalti.Buffon pun harus mengemban berat yang teramat berat. Silih berganti
tendangan pemain Perancis dengan mudah melesak ke jala Buffon. Dari 3 tembakan
4 tembakan penalti yang dilesakkan tim Perancis, Buffon sama sekali tidak dapat
mengantisipasi tendangan-tendangan eksekutor tim berjuluk ayam jantan tersebut.
Jago mengantisipasi bola dari Open Play, tidak dalam menghalau tendangan penalty
Beruntung
tembakan keras David Trezeguet membentur mistar atas gawang.dan sepakan Fabio
Grosso membobol gawang Fabian Barthez, Italia pun juara. Well Every Superhero got his weakness right?
Superman, There and Then
Musim
2011-2012 menjadi ajang pembuktian Buffon bahwa ia belum habis. Cedera yang
dideritanya sudah benar-benar sembuh, begitu pula kepercayaan dirinya. Tak
butuh lama Buffon menemukan daya magisnya, coba tengok penyelamatan yang ia
lakukan ketika menghalau sepakan keras gelandang Udinese, Pablo Armero kala kedua
tim bersua Januari silam. Buffon benar-benar kembali menjadi “Superman”. Buffon
memaksa kritikus dan jurnalis italia menelan ludah mereka.
Penyelamatan Buffon kala menghadapi Udinese
Ketika
diwawancarai Footbal-Italia Buffon mengungkapkan kekecewaannya terhadap
minimnya dukungan kala ia sedang berada pada periode buruk.
"Beberapa
orang dari anda mengatakan saya sudah habis. Anda tahu saya, saya tipe orang
tidak mampu berpura-pura.Dalam 6-7 bulan ini, saya mendengarkan berita yang
menyakitkan. Banyak orang yang tidak menghormati karier saya," sesal
Buffon.
"Sejarah
jangan pernah dihapus. Saya mengatakan kepada orang dalam 50 tahun mendatang.
Meski penampilan saya belakangan buruk, orang akan membicarakan Buffon. Ini
berati saya sudah melakukan hal yang bagus," lanjutnya.
"Jadi,
saya sangat bangga atas apa yang sudah saya raih. Anda tidak bisa bertahan selama
ini disebuah klub, jika anda tidak memiliki kualitas yang bagus," tandas
kiper yang pernah diincar Manchester United itu, dilansir dari Football-Italia
Kini Buffon
bersama pelatih yang juga mantan rekan timnya, Antonio Conte membawa Juventus
sebagai Capolista sementara dengan rekor 21 pertandingan belum pernah kalah dan
jumlah kebobolan paling sedikit. Berkat penampilannya yang brilian dikabarkan
manajemen Juve ingin memperbaharui kontraknya hingga 2014.
We may have bunch of the greatest goalkeeper that ever known in Italian Football History such as Giampiero
Combi, Dino Zoff and Angelo Peruzzi but there’s only one Gianluigi Buffon!. Viva
ala grande Gianluigi Buffon!
Buffon! Buffon! Buffon! What
a briliant saves by Gianluigi Buffon!. Kata-kata itu hampir pasti
dialamatkan kepadanya kala ia
bertanding. Gianluigi Buffon, pria kelahiran Carrara itu kini telah menginjak
usia ke 34. Kala usianya baru 17 tahun, Gigi sukses menahan gempuran Zvonimir
Boban dkk, Milan pun dipaksa imbang 0-0 melawan Parma. Gigi sukses membuat Paolo di
Canio dan Gigi Lentini -duet striker tertajam di Serie A kala itu- terlihat amatir.
Seusai pertandingan yang diselenggarakan di stadion Ennio Tardini
tersebut, Gigi disebut-sebut bakal memiliki karir yang cerah dan posisi kiper di timnas Italia hanyalah
masalah waktu. Kepiawaiannya melakukan penyelamatan akrobatik nan spektsayaler
membuat julukan “Superman” tersemat kepadanya. Julukan ini tidak hanya berdasar
kepada aksi-aksinya di lapangan, kala membela panji Parma ia selalu mengenakan
kaos Superman di dalam jerseynya, namun entah mengapa kebiasaan itu ia
tinggalkan kala berbaju Juventus.
Buffon kala membela Parma periode 1995-2001
Buffon membuka asa baru kala publik Italia terlanjur kecewa
dengan performa Gianluca Pagliuca dan Luca Marchegiani di pos penjaga gawang.
Gelaran Piala Eropa 1996 diperkirakan bakal menjadi debutnya di level timnas,
namun nyatanya pelatih Arrigo Sacchi tidak memanggil Buffon dengan alasan
Buffon masih terlalu muda.
Italia yang banyak
dihuni pemain “lama” pun babak belur di kualifikasi grup Piala Eropa. Maldini,
Di Livio, Zola dan kawan-kawan kalah trengginas dengan Jerman yang banyak
dihuni pemain senja asuhan Berti Vogts. Italia yang langganan lolos kualifikasi
grup pun harus menyerah dari pemuda-pemuda Republik Cekoslowakia yang dimotori
Pavel Nedved dan Patrik Berger .
Buffon tidak berkecil hati kala ia tidak dipanggil timnas.
Ia menjawab tolakan Sacchi sebagai
lecutan bagi dirinya untuk terus meningkatkan kualitas dan mentalnya sebagai
kiper nomor wahid di Italia.Bersama Parma yang dihuni banyak pemain-pemain muda
bertalenta seperti Dino Baggio, Hernan Crespo dan Enrico Chiesa mengejutkan
banyak pihak kala menjuarai Piala Uefa 1995 di All Italian Final menghadapi
Juventus. Dino Baggio menjadi pahlawan dengan 2 golnya di 2 putaran Final Piala
Uefa.
Seiring dengan matangnya usia Buffon, posisi timnas pun
dapat ia raih. Debutnya bersama timnas ia lakukan kala mengeser Gianluca
Pagliuca yang mengalami cedera tangan pada Play-off Piala Dunia 1998.
Penampilan impresifnya di putaran kualifikasi tidak membuat Cesare Maldini
berpaling padanya. Ia lebih memilih Francesco Toldo sebagai penjaga gawang
timnas. Buffon memang dipanggil kedalam skuad, tapi di ajang 4 tahunan yang
berlangsung di Perancis itu ia tidak diturunkan sama sekali. Dua kali Buffon
dikecewakan timnas, dua kali pula Italia gagal berbicara banyak di kompetisi
Eropa dan Dunia. Namun publik Italia sudah yakin bahwa Buffon adalah calon
kiper yang hebat.
Gianluigi Buffon butuh 1 laga lagi untuk melewati rekor Dino Zoff dalam penampilan bersama timnas
“Mungkin ia bakal melebihi pencapaian Dino Zoff dalam
karirnya” papar seorang pengamat sepakbola Italia.
Nomor 88, Nomor "Sial" Buffon
Berita kehebatannya pun mulai menghiasi koran-koran di
Italia, namun di awal karirnya bersama Parma ia justru sempat diguncang isu yang
kurang sedap. Buffon yang kala itu mengenakan nomor punggung 88 disebut-sebut
sebagai simpatisan diktator asal Jerman, Adolf Hitler. Buffon dianggap
melecehkan kaum Yahudi di Italia terkait nomor yang dipilihnya.
Kaum Yahudi beranggapan nomor 88 tersebut merupakan pesan
tersembunyi (red: H adalah huruf ke 8 dalam alfabet dan 88 bisa dianalogikan
sebagai HH). Inisial HH ini sering diidentikkan sebagai pesan neo-Nazi yang
berarti Heil Hitler! (Hidup Hitler). Komentar miring dari pihak Yahudi ini
bermula ketika sebelumnya Buffon memamerkan kaos bertuliskan “Kematian bagi
Pengecut”. Kata-kata ini sempat membahana kala Italia masih dipimpin oleh
Benito Mussolini.
Konon kata-kata ini juga disampaikan ketika Mussolini masuk
ruang ganti pemain timnas Italia di final Piala Dunia 1934 dan 1938 . Kata-kata
ini akhirnya menjadi pemicu “menggilanya” penampilan skuad Italia. Hasilnya?
Italia 2 kali juara Piala Dunia dua kali berturut-turut.
Hitler dan Mussolini- Kedekatan dua figur ini menyebabkan misinterpretasi pada kasus Buffon
Hitler dan Mussolini memang dua figur yang sangat dekat.
Adolf Hitler secara terang-terangan mengakui kekagumannya terhadap Mussolini.
Kedekatan dua orang diktator inilah yang akhirnya memicu insiden nomor punggung
88 yang dikenakan Buffon. Buffon pun buru-buru menjernihkan masalah
"Saya telah memilih 88 karena mengingatkan saya pada
empat bola dan di Italia kita semua tahu apa artinya memiliki bola: kekuatan
dan tekad," katanya. "Dan musim ini saya harus memiliki nyali untuk
mendapatkan kembali tempat saya di tim Italia" kata Buffon.
Buffon tidak sendiri dalam menjernihkan kesalahpahaman ini.
Direktur sepakbola Parma, Michele Uva kala itu pun , berkomentar
"Komunitas Yahudi harus berurusan dengan masalah-masalah yang lebih
serius."
"Pada awalnya saya tidak memilih 88," jelasnya.
"Saya ingin 00 tapi liga mengatakan kepada saya bahwa itu tidak mungkin,
saya juga menginginkan nomor 01 karena mengingatkan saya pada nomor mobil General
Lee dalam seri TV Dukes of Hazzard, tapi lagi-lagi pihak liga melarangnya"
tambahnya kiper langganan timnas Italia itu
"Seperti kebanyakan orang, saya sangat sedih akan
tragedi Holocaust. Saya siap untuk mengubah nomor jika itu akan membantu,"
jelasnya. "Saya tidak tahu makna yang tersembunyi dari 88 " papar ayah
dari dua anak ini.
Kepiawaian pria yang telah menjalani 112 laga bersama timnas
ini dalam menjaga gawang akhirnya “memaksa” Juventus merekrutnya di musim panas
2001. Ketidakstabilan performa yang
ditampilkan Edwin Van Der Sar muda membuat Juve mendepaknya. Juventus kala itu
memang sedang ancang-ancang dalam merombak skuadnya guna kembali merebut titel
scudetto serie A 2000-2001 yang dimenangi oleh A.S. Roma. Tak hanya itu, Juve
juga tak ingin hanya menjadi klub “pemeriah pesta” di Liga Champions.
Juve pun harus menuruti mahar yang diminta oleh Parma
sebesar 32,6 juta Pounds.
Jumlah yang terbilang besar untuk sebuah kiper. Namun
Buffon membayar setiap penny yang dikucurkan oleh Juve dalam bentuk prestasi,
pengorbanan dan kesetiaan. Namun tahukah anda? Kala Parma mengatakan “Ya” untuk
transfer Buffon, Juventus merupakan pilihan kedua suami Alena Seredova ini.
Seorang pria paruh baya memasuki sebuah ruangan pers di
Juventus stadium. Pria plontos itu lalu kemudian duduk di meja panelis. Terlihat
senyum kecil yang ia perlihatkan sebelum menggelar konferensi pers waktu itu. Pria
paruh baya itu bernama Giuseppe Marotta. Tak lama berselang ia memperkenalkan
pemain yang baru ia transfer.
Publik penikmat Liga Italia Serie
A mungkin masih awam bila mendengar nama pria berkacamata ini. Maklum sebelum
bergabung bersama Juventus sebagai Sport
Director, dia hanya bertugas di klub-klub kecil seperti Varese, Monza,
Como, Venezia, Atalanta dan Sampdoria.
Dunia sepakbola bukanlah dunia
yang asing bagi Marotta. Di saat umur 22 dan teman-teman sebayanya
berlomba-lomba untuk menjadi pemain sepakbola yang tenar dan kaya, Marotta malah
langsung terjun ke dunia manajemen sepakbola. Di umur yang baru menginjak 22,
ia dipercaya oleh Varese untuk menjadi orang nomor satu di bidang pengembangan
pemain muda klub yang kini bermain di Sere B tersebut. Tak butuh waktu lama
Marotta untuk naik tingkat, setahun setelah ia dipercaya menangani tim remaja,
ia dipercaya menjadi General Manager
Varese. Bersama Varese Marotta mengatrol tim Italia Utara itu naik ke serie B.
Sayang dalam 2 tahun terakhir masa tugasnya, Varese harus kembali tedegradasi
ke serie C1.
Malang melintang di klub papan
bawah Liga Italia, musim 2001/2002 Marotta diangkat sebagai juru transfer
pemain klub Sampdoria. Di klub yang bermarkas di stadion Luigi Ferraris itu ia
banyak menemukan pemain potensial seperti Andrea Gasbarroni,Giampaolo Pazzini
dan tentu saja sang kapten klub Angelo Palombo.
Ia juga dapat mengubah pandangan
publik Italia tentang perangai Antonio Cassano yang susah diatur menjadi
seorang striker ganas. Ketika publik sudah kehilangan harapan akan seorang pria
kelahiran 29 tahun silam itu, Marotta melawan arus dengan meminjam pemain
berjuluk Peter Pan itu dari Real
Madrid.
Giuseppe Marotta, salah satu Sport Director terbaik di Italia
Insting Marotta tepat, di klub
yang dikapteni Angelo Palombo itu ia kembali bersinar. Striker yang memakai
nomor punggung 99 kala di Sampdoria itu mengemas 35 gol dari 96 kali
pertandingan. 35 gol merupakan jumlah yang terbilang banyak mengingat Cassano diplot sebagai perusak konsentrasi pertahanan
lawan bukan sebagai striker murni. Bersama Giampaolo Pazzini, ia menjadi salah
satu komoditi panas di bursa transfer sepakbola Italia. Sampdoria pun sukses
merangsek ke posisi 5 pada musim kompetisi 2009-2010. Imbasnya, nama Marotta
pun kembali mencuat sebagai salah satu transfer
guru yang layak diperhitungkan.
Mei 2010, Juventus tertarik
mempekerjakannya. Juve terlanjur kecewa dengan pembelian pemain mantan Sport
Director sebelumnya yang notabene murid
didik Luciano Moggi, Alessio Secco. Diego Ribas, Amauri, Melo.Ketiga nama diatas kemudian gagal bersinar di klub Turin
tersebut. Dalam menggaet pemain incarannya, Secco pun tidak lihai bernego.
Lihat jumlah yang ia keluarkan kala ia memboyong Amauri (22,8 juta Euro), Melo (25 juta Euro) dan Diego (24,5 juta Euro).
Rentetan pembelian buruk Secco membuat ia didepak dari Juventus di akhir musim 2009-2010
Tak selamanya jumlah uang yang
dikeluarkan sebanding dengan prestasi yang ditorehkan oleh pemain-pemain
tersebut. Melo di tahun pertamanya bersama Juve langsung diganjar “penghargaan”
Bidone D’Oro 2009 alias keranjang sampah emas oleh Catersport show yang
disiarkan Rai Radio 2 (Bidone D’Oro adalah “penghargaan” bagi pemain-pemain
baru Serie A yang gagal memberikan kontribusi positif kepada tim).Belum lagi
nama-nama seperti Christian Poulsen, Dario Knezevic dan Jorge Andrade yang
gagal bersinar di Juve. Alhasil Secco pun
menambah koleksi rapor merah karir Secco di klub yang meraih 29 scudetti ini.
Raja Kredit
Berbeda dengan Alessio Secco yang
masih minim pengalaman, Marotta terbilang lihai dalam hal “menggoyang” harga pemain
incarannya. Marotta juga jago “merayu” klub-klub dalam pembayaran pemain. Dalam
2 musim terakhir, Marotta sukses menekan dana belanja Juve, buktinya bisa kita
lihat ketika ia mengakuisisi Milos Krasic, Vucinic, Vidal. Marotta bisa “
menekan” harga-harga pemain.
Arturo Vidal yang kala itu bermain
cemerlang di Coppa America 2011 menjadi
incaran banyak klub klub besar di eropa. Salah satu badan statistika yang
memprakirakan nilai jual pemain yaitu Transfermarket.de
menilai harga Vidal kini mencapa 20 juta Euro!.
Padahal ketika direkrut Juve hanya merogoh kocek sebesar 12,5 juta Euro dan dicicil selama 3 tahun.
Cicilan dalam jangka 3 tahun
nampaknya menjadi strategi andalan Marotta dalam membeli pemain. Tengok pula
pembelian pria yang mengawali karirnya di klub Varese, Vucinic ia beli dengan
harga 15 juta Euro dicicil 3 tahun
pembayaran, Matri ia bayar dengan harga 15 ,5 juta Euro dalam tiga kali pembayaran, ia pun dapat merayu dengan hal
serupa ketika CSKA Moscow menjual Milos Krasic ke Juve seharga 15 juta Euro. Berbagai forum dan milis Juventini
di seluruh dunia pun sepakat menyebut Marotta sebagai Raja Kredit dalam urusan
transfer pemain.
Vucinic ketika diperkenalkan Marotta, Agustus tahun lalu
Ada dua faktor mengapa Marotta memilih strategi ini
1. 1. Belum stabilnya keuangan Juventus
Pembangunan Juventus Stadium menguras dana transfer Juventus
Pembangunan
Juventus sebagai satu-satunya stadion milik klub pribadi memang menguras
kantong kas Juve. Biaya konstruksi stadion tidak melulu berkutat pada bahan
bangunan dan alat-alat berat, tapi juga pembelian hak tanah stadion Delle Alpi dari
Pemerintah Kota Turin. Stadion yang mulai dikerjakan pada medio 2009 ini
menelan biaya 120 juta Euro. Meskipun
menurut pengamat bisnis Juve bisa meraup keuntungan hingga 21 juta Euro per tahunnya, setidaknya strategi
cicil ala Marotta dapat membantu Juventus menyeimbangkan neraca keuangannya
2. 2. Krisis finansial yang melanda Eropa
Krisis Finansial Eropa berdampak pula kepada klub-klub sepakbla Eropa
Krisis finansial
di benua Eropa kini menjamah negara-negara yang diakui memiliki kekuatan
ekonomi, seperti Italia, Prancis dan berbagai negara di Eropa barat Red :
(Italia berhutang sebesar kurang lebih dua milyar dollar AS, sedangkan Prancis mengalami
pelonjakan tingkat suku bunga) membuat klub-klub sepakbola Eropa yang berbasis
bisnis dan hiburan ini mulai mengencangkan ikat pinggangnya. Ujungnya, strategi
kredit cicilan ini medapatkan impact
langsung dari bencana finansial tersebut. Namun bisa dibilang krisis ini ibarat
Blessing in Disguise bagi para juru
transfer pemain. Di satu sisi manajemen klub harus putar otak dalam menjalankan
roda perekonomian klubnya, di sisi lain para Sport Director di klub-klub Eropa menemukan kemudahan dalam membayar
transfer pemain.
Butuh waktu untuk mengalahkan Mercato Guru
Tak selamanya kecerdikan Marotta
berbuah manis. Sebagian fans di curva sud memang masih menyangsikan kehebatan
Marotta. Marotta dianggap belum sehebat Mercato
Guru sebelumnya, Luciano Moggi. Pria kelahiran 25 maret 1955 itu sempat
dicemooh pendukung klub Turin tersebut karena gagal mendapatkan Sergio “Kun”
Aguero dari Atletico Madrid dan “hanya” mendapatkan Mirko Vucinic. Fakta yang
terjadi di lapangan pun berbicara, Vucinic yang dianggap sudah melewati masa
emasnya di AS Roma menjadi aktor penting di lini depan Juventus.
Lucianno Moggi masih belum tergantikan oleh Marotta
Kinerja apik yang ditampilkan
pemain berkebangsaan montenegro itu mengubah hujan kritikan yang menerpa
Marotta menjadi sanjungan. Bersama Arturo Vidal dan Pirlo, Vucinic menjadi
salah satu transfer terbaik Juve musim ini. Media-media di italia pun mengamini
pernyataan tersebut sebagai salah satu kunci kesuksesan musim ini.
Ujian kedua bersama Juve baru
saja dialami Marotta, ia banyak dikritik fans ketika meminjam Boriello dari AS
Roma. Bukti ketidaksenangan fans Juve akan datangnya Borriello diperlihatkan
pada laga Lecce vs Juventus, di tribun stadio Via del Mare para suporter
membentangkan spanduk yang bertuliskan “Borriello, tentara tanpa bayaran dan
kehormatan.”.
Memang hingga kini motif dibalik
peminjaman Borriello masih menjadi teka-teki. Mampukah Boriello menjadi layaknya
Vucinic yang terbilang cepat beradaptasi dan berkontribusi poitif untuk Juve?. Ataukah
ia menjadi “Melo” berikutnya dan memberi nilai merah bagi Marotta?. Marotta
tentu masih melihat bahwa masih ada bakat yang disia-siakan dalam diri
Borriello, kini saatnya tugas Conte untuk memaksimalkan potensi Borriello.Bila
pembelian-pembelian Marotta selanjutnya dapat memberikan kontribusi positif
kepada Juve, sedikit demi sedikit kita akan melupakan Luciano Moggi dan
menyambut Mercato Guru baru Juventus bernama Giuseppe Marotta!.
Tampil baik
sejak awal musim dengan sukses bercokol di peringkat kedua Serie A, serta menjadi
satu-satunya klub liga top Eropa yang belum tersentuh kekalahan hingga pekan
ini, Januari tampaknya menjadi bulan yang krusial bagi Juventus. Untuk bisa
terus menempel ketat pemimpin klasemen sementara Serie A, AC Milan, Si Nyonya
Tua harus bisa melanjutkan tren positif yang mereka bangun selama ini.
Januari
bukan bulan yang baik bagi Juventus, setidaknya untuk dua musim terakhir. Pada
dua musim lalu, dari empat pertandingan
yang dilakoni selama bulan Januari, Juventus hanya bisa memetik tiga poin hasil
satu kali menang dan tiga tiga kalah. Membuka awal tahun 2010 dengan kemenangan
atas Parma di Ennio Tardini, pekan selanjutnya Del Piero cs dihajar AC Milan
tiga gol tanpa balas.
Kekalahan
dari Milan di kandang tampaknya cukup memukul. Sejak kekalahan tersebut, skuad
yang saat itu diasuh oleh Ciro Ferrara butuh waktu lama untuk bangkit. Tak
tersentuh kemenangan pada empat pekan selanjutnya, Juventus baru berhasil
memetik tiga poin saat menjamu Genoa pada pekan ke-24.
Memori Kelam Bulan Januari 2 musim terakhir coba diapus Juventus
Musim
lalu tidak jauh berbeda. Kembali bersua Parma pada awal tahun, Juventus habis
dibantai di kandang dengan skor telak, 1-4. Belum cukup “dihadiahi” empat gol,
Juventus mendapat bonus awal tahun dengan cederanya Fabio Quagliarella pada
pertandingan tersebut. Usai pekan
memilukan tersebut, pada pekan selanjutnya giliran Napoli yang membantai
Juventus tiga gol tanpa balas.
Kebobolan
sepuluh gol dan hanya mencetak tiga gol selama Januari tahun lalu tentu bukan
rekor yang baik. Dari lima pertandingan yang dilakoni pada Januari tahun lalu,
anak asuhan Luigi Delneri kala itu hanya bisa memetik empat poin hasil sekali
menang, sekali seri, dan tiga kali kalah.
Hapus Kutukan
Musim
ini Juventus tentu tidak mau mengulangi periode suram tersebut. Meski pekan
lalu berhasil mengalahkan Lecce, “kutukan bulan Januari” Juventus belum bisa
dikatakan hilang. Memang Juventus berhasil membalas dendam atas kekalahan 0-2
saat bertandang ke markas Lecce musim lalu, tapi melihat rekor kandang Lecce
pada musim ini, kemenangan Juventus pekan lalu belum bisa dijadikan acuan.
Pada
musim ini, Lecce merupakan satu-satunya klub di Serie A yang tidak pernah
menang di kandang. Selama bertanding di Stadio Via del Mare, Lecce selalu gagal
memetik poin penuh hasil dari tujuh kali kalah dan satu kali imbang. Ujian yang
sesungguhnya untuk Juventus baru dimulai pada tiga pekan selanjutnya.
Pekan depan,
tepatnya pekan ke-18, Juventus akan
menjamu Cagliari di Juventus Arena. Juventus harus mewaspadai semangat Radja
Nainggolan cs yang pada pekan lalu baru saja memetik kemenangan 3-0 dari Genoa.
Membuka tahun dengan kemenangan besar, skuad asuhan Davide
Ballardini tentu ingin terus melanjutkan tren positif mereka. Kemenangan 4-2
saat menjamu Cagliari pada musim lalu mungkin bisa dijadikan modal pada
pertandingan kali ini.
Pada
pekan ke-19, Juventus harus bertandang ke markas Atalanta. Meski hanya
bertengger di peringkat 12 klasemen sementara, Juventus tidak boleh memandang
remeh Atalanta. Dari sembilan laga sudah yang dilakoni di Stadio Atleti Azzurri
d'Italia, anak-anak asuhan Stefano Colantuono baru sekali menelan kekalahan,
itupun dari tim sekelas AC Milan. Tim-tim kuat macam Napoli, Udinese, dan Inter
Milan dipaksa mengakui ketangguhan Atalanta setelah hanya mampu bermain imbang
saat bertandang ke Stadio Atleti Azzurri d'Italia.
Selain
faktor jago kandang, Juventus juga harus mewaspadai faktor lain bernama German
Denis. Striker berusia 30 tahun tersebut sedang on fire. Torehan 12 gol membuat ujung tombak Atalanta tersebut
memimpin daftar topskorer sementara Serie A. Jika ingin menuai hasil positif,
Juventus tentu tidak mau menjadi korban Denis yang selanjutnya dalam menambah
koleksi gol.
Ujian
berat datang pada akhir Januari, tepatnya pada pekan ke-20, saat menjamu
Udinese. Perlu diingat, musim lalu Udinese sukses mempermalukan Juventus
setelah menang 1-2 di Stadio Olimpico di Torino (kandang Juventus musim lalu).
Menariknya, pertandingan tersebut juga terjadi pada bulan Januari. Jika tidak
ingin tertinggal dari pemimpin klasemen sementara, AC Milan, Juventus tentu
tidak ingin pengalaman buruk tersebut terulang lagi pada musim ini.
Si
Nyonya Tua juga harus mewaspadai Antonio Di Natale. Pekan lalu, striker berumur
34 tahun tersebut turut berperan saat
Udinese membenamkan Cesena. Pada pertandingan yang berakhir dengan skor 4-1
tersebut, Di Natale menyumbangkan dua gol. Meski sudah uzur, Di Natale tidak
bisa diremehkan. Terbukti dengan torehan 11 gol yang membuat kapten Udinese
tersebut menempati peringkat kedua daftar topskor sementara Serie A.
Demi
menjaga rekor belum terkalahkan pada musim ini, Juventus tentu tak ingin “kutukan
bulan Januari” menghentikan tren positif tersebut. Jika berhasil melewati semua
ujian tersebut, Juventus tentu akan lebih mudah untuk meraih scudetto pada
akhir musim ini. Jika gagal, bukan tidak mungkin Juventus akan tertinggal dari
AC Milan dan gagal finis sebagai juara. (DAP)